PWkab.com – Mengawali tahun 2026, tatanan global menghadapi ujian terberat dalam satu dekade terakhir. Serangkaian peristiwa dramatis dalam dua pekan pertama Januari telah mengubah peta kekuatan dunia, mulai dari intervensi militer di Amerika Latin hingga ancaman pecahnya aliansi NATO di Utara.
Krisis Venezuela: Erosi Kedaulatan Global
Dunia dikejutkan oleh operasi militer Amerika Serikat pada 3 Januari 2026 yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro. Langkah unilateral Washington ini memicu gelombang protes di berbagai belahan dunia, termasuk aksi solidaritas di Jakarta.
Pakar hubungan internasional menilai tindakan ini sebagai bentuk erosi norma non-intervensi. Sementara itu, ekonomi dalam negeri Venezuela kian runtuh; warga kini beralih sepenuhnya ke aset kripto seperti USDT sebagai penopang ekonomi informal di tengah inflasi yang tak terkendali.
“Cara Mudah atau Cara Sulit”: Ambisi Trump di Greenland
Di belahan bumi Utara, ketegangan pecah antara AS dan Denmark. Presiden Donald Trump kembali menegaskan ambisinya untuk menguasai Greenland. Dalam pernyataannya di Ruang Oval (14/1), Trump memperingatkan bahwa AS akan menempuh “cara mudah atau cara sulit” untuk mengamankan pulau strategis tersebut guna menangkal pengaruh Rusia dan Tiongkok di Arktik.
Denmark secara tegas menolak, menyebut ambisi tersebut sebagai ancaman bagi aliansi pertahanan trans-atlantik. Trump bahkan telah mengusulkan pengenaan tarif ekonomi bagi negara-negara yang menghalangi rencana akuisisi ini.
Ancaman Tanpa Batas Nuklir
Stabilitas keamanan dunia juga berada di ujung tanduk seiring mendekatnya tenggat waktu perjanjian New START pada Februari 2026. Sebagai satu-satunya perjanjian pembatasan senjata nuklir yang tersisa antara AS dan Rusia, berakhirnya pakta ini tanpa kesepakatan baru dikhawatirkan akan memicu perlombaan senjata nuklir yang tidak terkendali.
Indonesia: Navigasi di Tengah “Anomali Global”
Di tengah badai ini, posisi Indonesia tetap memegang teguh prinsip Politik Bebas Aktif. Menteri Luar Negeri RI dalam paparan tahunannya (14/1) menegaskan bahwa Indonesia akan memperkokoh diplomasi ekonomi untuk memitigasi dampak ketidakpastian global.
Meskipun Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya di angka 2,6%, ekonomi Indonesia diprediksi mengalami “anomali” dengan potensi pertumbuhan mencapai 6% berkat ketahanan konsumsi domestik dan hilirisasi industri.
Namun, tantangan nyata tetap membayangi, terutama pada nilai tukar rupiah dan stabilitas investasi asing yang mulai terdampak proteksionisme AS.
Catatan Redaksi: Situasi global bergerak sangat dinamis. Ketahanan nasional dan kemandirian energi akan menjadi kunci utama bagi Indonesia dalam menghadapi gejolak rantai pasok sepanjang tahun 2026.








