Tutup
Kabar

Menenun Kembali Kepercayaan Publik dari Plered: Kisah Bersahaja AKP Ali Murtadho

×

Menenun Kembali Kepercayaan Publik dari Plered: Kisah Bersahaja AKP Ali Murtadho

Sebarkan artikel ini


PWkab.com, PURWAKARTA – Di era digital saat ini, potret kepolisian sering kali dinilai masyarakat melalui layar gawai. Satu video viral bisa mengubah persepsi publik dalam semalam. Namun, di sudut Kabupaten Purwakarta, tepatnya di Kecamatan Plered dan Tegalwaru, kepercayaan publik terhadap Korps Bhayangkara tidak dibangun lewat pencitraan media sosial, melainkan melalui langkah kaki yang konsisten menyusuri gang-gang desa dan ketukan pintu rumah warga.

Adalah AKP Ali Murtadho, Kapolsek Plered, Polres Purwakarta, yang menjadi jangkar dari pendekatan humanis tersebut. Bagi masyarakat setempat, sosok perwira ini jauh dari kesan sangar atau elitis. Ia adalah figur polisi yang karib dengan semua kalangan; mulai dari ulama, tokoh pemuda, hingga warga prasejahtera yang membutuhkan uluran tangan.

Iklan
Iklan

Di bawah kepemimpinannya, Polsek Plered menerjemahkan konsep Presisi bukan sekadar sebagai jargon institusional, melainkan sebagai tindakan nyata yang hidup di tengah masyarakat.

Dari Brigadir hingga Kapolsek: Menjaga Jiwa Lapangan

Rekam jejak karier AKP Ali Murtadho adalah cerminan dari dedikasi panjang yang ditempa dari bawah. Lahir di Kabupaten Brebes pada 25 Januari 1970, Ali memulai perjalanan korpsnya pada tahun 1989 sebagai seorang Brigadir Polisi yang langsung ditempatkan di Polres Purwakarta.

Dua puluh tahun lamanya ia menyelami dinamika tugas-tugas dasar kepolisian di lapangan, merasakan langsung denyut nadi persoalan masyarakat jelata. Pengalaman empiris itulah yang membentuk sensitivitas sosialnya. Ketika ia lulus Sekolah Inspektur Polisi (SIP) pada tahun 2009 (Angkatan Reg 38) dan menyandang pangkat Perwira, jiwa sebagai “polisi lapangan” tidak pernah luntur.

​Perjalanan kepemimpinannya sebagai Kapolsek membentang luas di berbagai wilayah hukum Polda Jawa Barat:

2015–2017: Kapolsek Bojong, Polres Purwakarta
​2017: Kapolsek Cipatujah, Polres Tasikmalaya
​2018: Wakapolsek Purwakarta Kota
​2019: Kapolsek Cibatu, Polres Purwakarta
​2022: Kapolsek Pasawahan, Polres Purwakarta
​2024–Sekarang: Kapolsek Plered, Polres Purwakarta

Pengalaman panjang ini melahirkan komitmen mendalam pada diri alumni SMAN 2 Purwokerto tersebut. Baginya, perpindahan wilayah tugas hanyalah perpindahan koordinat pengabdian, namun esensinya tetap sama: mengimplementasikan falsafah hidup Tri Brata dan Catur Prasetya sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

Meruntuhkan Sekat Pangkat demi Kamtibmas

“Bagi saya, seorang pimpinan wilayah itu tidak ada bedanya dengan petugas polisi di lapangan. Hanya saja, kewajiban dan tanggung jawabnya jauh lebih besar.”

Prinsip itulah yang selalu dipegang teguh oleh Ali. Di tengah masyarakat Plered, Ali dengan sadar menanggalkan ego strukturalnya. Ia tidak pernah canggung atau malu untuk turun langsung ke parit, menyambangi pos ronda malam, atau memimpin personelnya di lapangan demi memastikan stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Pendekatan proaktif melalui kegiatan sambang dan kunjung warga (door-to-door system) menjadi prioritas utamanya. Langkah ini diambil bukan tanpa alasan. Di tengah tantangan zaman di mana ruang dialog antara aparat dan warga sering kali tersumbat, kehadiran fisik seorang Kapolsek di teras rumah warga adalah obat penawar skeptisisme yang paling mujarab.

Ketika polisi hadir tanpa memandang kedudukan atau strata sosial ekonomi, di situlah rasa aman yang hakiki mulai tumbuh. Warga tidak lagi merasa sungkan untuk melapor, dan sebaliknya, polisi dapat melakukan deteksi dini terhadap potensi gangguan kriminalitas secara cepat dan akurat.

Respons Cepat dan Jembatan Sosial

​Ujian terbesar dari kepercayaan publik adalah kacepatan respons. AKP Ali Murtadho menyadari betul bahwa informasi atau keluhan yang diabaikan adalah awal dari runtuhnya wibawa institusi. Oleh sebab itu, ia membangun sistem komunikasi yang inklusif, di mana setiap aduan—mulai dari konflik pemuda, potensi kriminalitas, hingga masalah sosial—selalu direspons dengan sigap.

Namun, menjaga kamtibmas tidak melulu soal penegakan hukum yang kaku. Ali menyeimbangkannya dengan ketegasan yang humanis. Di wilayah Plered yang kental dengan nilai-nilai religius, ia merajut kedekatan emosional yang erat dengan para ulama, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Ulama didekati sebagai mitra strategis untuk meredam potensi konflik sosial keagamaan melalui pendekatan persuasif.

​Lebih dari itu, wajah humanis kepolisian ia tunjukkan melalui berbagai aksi sosial nyata. Ketika musibah menimpa warga, Ali kerap menjadi orang pertama yang hadir membawa bantuan. Program kemanusiaan seperti santunan bagi warga kurang mampu dan pendampingan pemuda putus sekolah menjadi agenda rutin yang ia kawal langsung.

Melalui jembatan-jembatan sosial inilah, masyarakat tidak lagi melihat Polri sebagai sosok yang “sangar” atau menakutkan, melainkan sebagai bagian dari keluarga mereka sendiri. ***