Tutup
Kabar

Purwakarta “Membara”: Antara Musibah Pasar Rebo dan Retaknya Hubungan Om Zein-Bang Ijo

×

Purwakarta “Membara”: Antara Musibah Pasar Rebo dan Retaknya Hubungan Om Zein-Bang Ijo

Sebarkan artikel ini

PURWAKARTA, PWKAB.COM– Kabupaten Purwakarta sedang dilanda situasi panas yang menguras energi publik. Dalam sepekan terakhir, perhatian warga terbelah antara duka akibat ludesnya ratusan kios di Pasar Rebo dan tanda tanya besar mengenai stabilitas pemerintahan setelah mencuatnya sinyal keretakan antara Bupati dan Wakil Bupati.

​Duka di Balik Asap Pasar Rebo

​Selasa dini hari (24/2/2026), saat sebagian warga sedang bersiap sahur, api hebat melahap Pasar Rebo di Jalan Basuki Rachmat. Insiden ini menambah daftar panjang musibah pasar tradisional di Purwakarta setelah sebelumnya Pasar Jumaah juga mengalami nasib serupa pada Maret 2025.

Iklan
Iklan
  • Dampak: Estimasi awal menunjukkan sekitar 200 kios ludes terbakar hanya dalam waktu 2,5 jam.
  • Kendala: Petugas Damkar sempat kesulitan menjangkau titik api karena akses jalan yang sempit dan banyaknya kerumunan warga.
  • Nasib Pedagang: Para pedagang kini terancam kehilangan momentum ekonomi menjelang hari raya, mengingat stok barang seperti sembako dan ikan asin yang baru dipasok ikut hangus tak bersisa.

​”Api” di Puncak Kepemimpinan

​Di tengah upaya penanganan bencana, suhu politik justru memanas. Hubungan Bupati Saepul Bahri Binzein (Om Zein) dan Wakil Bupati Abang Ijo Hapidin dikabarkan sedang tidak baik-baik saja.

​Isu ini meledak setelah Abang Ijo melalui media sosial curhat mengenai dirinya yang jarang dilibatkan dalam pengambilan kebijakan strategis. “Setahun kepemimpinan” yang seharusnya menjadi momen evaluasi prestasi, justru menjadi panggung terbuka bagi disharmoni pimpinan daerah.

​”Stabilitas pemerintahan adalah kunci. Jika di tingkat atas sudah tidak seirama, dikhawatirkan pelayanan publik dan kebijakan pasca-bencana seperti renovasi pasar akan terhambat,” ujar salah satu pengamat kebijakan publik setempat.

​Tantangan ke Depan

​Jika ego politik lebih dominan daripada urusan perut rakyat, maka Purwakarta tidak hanya akan panas karena cuaca dan api, tapi juga karena krisis kepercayaan publik. ***