Tutup
Kabar

Cikopo Memanas, Ini Sudut Pandang Vera Novia Soal Konflik Pendirian Gereja

×

Cikopo Memanas, Ini Sudut Pandang Vera Novia Soal Konflik Pendirian Gereja

Sebarkan artikel ini

​Purwakarta, Pwkab.com – Keterlibatan pemuda dalam dinamika konflik keagamaan terkait pendirian tempat ibadah di wilayah Cikopo, Purwakarta, Jawa Barat, memantik perhatian para aktivis muda. Salah satunya adalah Vera Novia, yang hadir mendampingi Staf Khusus Menteri Agama RI, Gugun Gumilar, saat diutus Kemenag RI untuk memediasi permasalahan tersebut.

​”Berbicara tentang perbedaan, rasanya kita semua perlu terus belajar untuk menjadi lebih dewasa dalam menyikapinya. Bukan hanya sekadar tahu bahwa kita berbeda, melainkan benar-benar memahami bahwa setiap orang punya hak untuk menjalankan keyakinannya. Sudah sepatutnya kita saling menghormati tanpa menghalangi satu sama lain untuk beribadah,” tutur Vera.

Iklan
Iklan

​Vera Novia dikenal aktif dalam berbagai bidang kreatif dan memiliki beragam prestasi yang mengharumkan nama Purwakarta dan Jawa Barat. Atlet karate dan mayoret drumband berprestasi ini tercatat sebagai Mojang Kabupaten Purwakarta 2024, Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2025, dan Duta Pariwisata Jawa Barat 2026.

​Mahasiswi semester tujuh jurusan Ilmu Hukum di Universitas Kartamulia Purwakarta tersebut menegaskan pentingnya wujud nyata dari nilai toleransi.

​”Bagi saya, toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, melainkan juga tentang bagaimana kita bersikap ketika berhadapan langsung dengan perbedaan itu. Menghargai keyakinan orang lain tidak akan mengurangi apa pun dari keyakinan yang kita miliki,” ujar Vera.

​Atas dasar itulah, Vera mendukung langkah mediasi terkait persoalan pembangunan Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Cikopo.

​”Saya percaya setiap persoalan perlu disikapi dengan kepala dingin, mengedepankan dialog, serta tetap berpegang pada aturan yang berlaku. Kita mungkin tidak memiliki keyakinan yang sama, tetapi kita memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga kerukunan dan menghormati hak sesama,” tambahnya.

​Ia berharap upaya bersama ini dapat merawat toleransi dan menjaga keberagaman lewat tindakan nyata. “Sebab pada akhirnya, hidup berdampingan bukan tentang siapa yang paling benar dalam perbedaan, melainkan bagaimana kita tetap bisa saling menghormati sebagai sesama manusia,” pungkasnya.

​Apresiasi dan Catatan Kritis dari BELA PURWAKARTA

​Menanggapi keterlibatan aktivis muda dalam isu kerukunan beragama ini, Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, memberikan pandangannya. Menurutnya, aksi para pemuda tersebut merupakan bentuk penerapan nyata dari nilai-nilai kebangsaan.

​”Ini bagus. Artinya, para pemuda yang sejak kecil diajarkan Bhinneka Tunggal Ika serta memperingati Hari Kesaktian Pancasila dan Sumpah Pemuda benar-benar mempraktikkan pentingnya persatuan. Keterlibatan mereka menunjukkan bahwa generasi muda tidak gagap, melainkan tanggap terhadap problematika masyarakat,” kata Aa Komara.

​Ia menambahkan, kematangan generasi muda dalam melihat persoalan secara holistik adalah kunci menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.

​Meski demikian, sosok yang dikenal aktif dalam perekat solidaritas lintas elemen masyarakat di Purwakarta ini turut menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik keagamaan yang masih sering terjadi.

​”Reputasi bangsa ini dipertaruhkan jika kerap terjebak dalam kekisruhan ideologi maupun teologi. Kelompok mayoritas dan minoritas harus saling memanusiakan tanpa perlu khawatir terjadi pergeseran iman,” tegasnya.

​Aa Komara juga menyoroti pentingnya keteladanan dari para elite politik dan tokoh masyarakat dalam menjaga suaka keberagaman.

​”Seluruh elite di negeri ini harus memberikan teladan sebagai konsekuensi menjadi negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Jangan bersikap abu-abu yang justru membingungkan generasi muda dalam menjalani kehidupan berbangsa yang heterogen ini,” tutupnya.