Tutup
Kabar

Suara Hati Abang Ijo: Ketika Niat Tulus Membangun Purwakarta Terbentur Tembok Eksklusivitas

×

Suara Hati Abang Ijo: Ketika Niat Tulus Membangun Purwakarta Terbentur Tembok Eksklusivitas

Sebarkan artikel ini

PWkab.com – Setahun sudah pasangan Saepul Bahri Binzein (Om Zein) dan Abang Ijo Hapidin menakhodai Kabupaten Purwakarta. Namun, di balik senyum di baliho-baliho resmi, tersimpan sebuah kenyataan pahit yang dialami oleh sang Wakil Bupati.

​Secara mengejutkan, Abang Ijo Hapidin akhirnya angkat bicara mengenai posisinya yang selama ini terkesan “ditinggalkan” dalam roda pemerintahan.

Iklan
Iklan

Keberanian Mengungkap Kebenaran

​Melalui komentar di media sosial @urangpurwakarta.id, Abang Ijo menunjukkan sisi kemanusiaannya sebagai pemimpin yang ingin bekerja namun tidak diberi ruang. Bukan sekadar mencari panggung, pernyataannya yang blak-blakan merupakan bentuk transparansi kepada rakyat yang telah memilihnya.

​”Dimulai dilantik sampe detik ini yang namanya wakil bupati tidak pernah dilibatkan,” tulis Abang Ijo.

​Kalimat ini bukan sekadar keluhan, melainkan pengingat bahwa mandat rakyat diberikan kepada pasangan, bukan individu tunggal. Abang ijo secara tersirat mempertanyakan: Bagaimana Purwakarta bisa sejahtera jika potensi dan pemikiran sang Wakil Bupati saja tidak pernah diminta?

Pemimpin yang Ingin Mendengar dan Didengar

​Abang Ijo menyoroti ketiadaan dialog strategis. Ia bahkan menantang Bupati Om Zein untuk berdiskusi terbuka di hadapan publik. Langkah ini dinilai sebagai bentuk keputusasaan seorang pemimpin yang ingin berkontribusi nyata, namun aksesnya tertutup rapat di internal birokrasi.

​Abang Ijo seolah ingin menegaskan: “Bagaimana saya bisa membawa aspirasi masyarakat jika saya tidak pernah diajak duduk bersama untuk membahas masa depan Purwakarta?”

Mengapa Sinergi Itu Penting?

​Sikap Abang Ijo yang berani bersuara ini seharusnya menjadi alarm bagi publik. Seorang Wakil Bupati bukanlah sekadar ban serep atau penghias foto protokoler. Beliau adalah representasi harapan masyarakat yang seharusnya:

  • Dilibatkan dalam perencanaan strategis agar kebijakan lebih komprehensif.
  • Diberi ruang eksekusi agar janji kampanye bisa terealisasi lebih cepat.
  • Diakui eksistensinya dalam komunikasi publik sebagai satu kesatuan pimpinan.

Dukungan untuk Perubahan

​Langkah Abang Ijo mengungkapkan kondisi ini ke media sosial adalah langkah berisiko secara politik, namun sangat jujur secara moral. Masyarakat Purwakarta kini bisa melihat siapa yang sebenarnya memiliki niat tulus untuk berkolaborasi dan siapa yang cenderung berjalan sendiri.

​Kini, publik menanti kedewasaan sikap dari pihak Bupati. Apakah aspirasi tulus dari Abang Ijo ini akan dijawab dengan pintu komunikasi yang terbuka, atau justru semakin membenarkan isu eksklusivitas di puncak pimpinan Purwakarta?